Javan Rhinoceros atau Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)




Taksonomi

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Perissodactyla
Famili : Rhinocerotidae
Genus : Rhinoceros
Spesies : Rhinoceros sondaicus

Deskripsi Fisik

              1.      Cula kecil dengan panjang sekitar  25 cm untuk badak jantan sementara badak betina 
                     hanya memiliki cula kecil atau tidak sama sekali.
              2.    Berat badan antara 900 – 2.300 kg, dengan panjang badan 2 – 4 meter dan tinggi 1,7 
                     meter.
              3.    Berwarna abu-abu dengan tekstur kulit yang tidak rata dan berbintik.
              4.    Badak jantan mencapai fase dewasa setelah 10 tahun, sementara betina pada usia 5 
                     sampai 7 tahun dengan masa mengandung selama 15 – 16 bulan.
              5.    Bagian atas bibirnya meruncing untuk mempermudah mengambil daun dan ranting.

Ekologi dan Habitat

    Badak Jawa hidup di hutan-hutan tropis yang selalu hijau dengan curah hujan tinggi. Di Pulau Jawa, hewan ini pernah ditemukan di hutan-hutan dataran tinggi maupun hutan dataran rendah. Sedangkan badak jawa yang ada di Pulau Sumatera hanya ditemukan di hutan dataran rendah. Hal ini diperkirakan karena adanya persaingan dengan badak sumatera yang hidup di pegunungan. Kini keberadaan badak jawa hanya ditemukan di hutan dataran rendah di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

       Sebelum memasuki abad ke-19, selain di Pulau Jawa, Badak Jawa ditemukan ditemukan hidup di daratan Asia. Beberapa penelitian melaporkan keberadaan hewan ini di Bengal, India, Banglades, Indocina, Cina Tenggara, semenanjung Malaya dan Sumatera. Di awal abad ke-20 masih dilaporkan terdapat Badak Jawa di Burma, Laos, Kamboja dan Vietnam. Badak jawa terakhir yang ada di luar Pulau Jawa terdapat di Taman Nasional Cat Tien Vietnam dan diketahui telah punah pada tahun 2011.

        Di Indonesia, sebelum abad ke-19 Badak Jawa dipastikan pernah hidup di Pulau Sumatera dari Aceh hingga ke Lampung. Sedangkan keberadaannya di Pulau Jawa tersebar hingga ke Jawa Tengah. Pada tahun 1833 masih ditemukan di Wonosobo. Titik lain yang diketahui pernah menjadi habitat Badak Jawa antara lain Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Papandayan, Gunung Ciremai dan Gunung Gede Pangrango. Bahkan dilaporkan juga hewan ini pernah ditemukan di Karawang. Keberadaan Badak Jawa di luar Ujung Kulon, terakhir tercatat ada di Karangnunggal Tasikmalaya, kala itu tahun 1834 seorang Belanda menembak badak tersebut dan hingga kini spesimennya tersimpan di Museum Zoologi, Bogor.

        Badak Jawa pernah hidup di hampir semua gunung-gunung di Jawa Barat, diantaranya berada hingga diatas ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut. Pada tahun 1960-an, diperkirakan sekitar 20 sd 30 ekor badak saja tersisa di TN Ujung Kulon.

Populasinya meningkat hingga dua kali lipat pada tahun 1967 hingga 1978 setelah upaya perlindungan dilakukan dengan ketat, yang didukung oleh WWF-Indonesia. Sejak akhir tahun 1970-an, jumlah populasi Badak Jawa tampaknya stabil dengan angka maksimum pertumbuhan populasi 1% per tahun. 


Berdasarkan pengamatan terhadap ukuran wilayah jelajah dan kondisi habitat, Ujung Kulon diperkirakan memiliki daya dukung bagi 50 individu badak. Hanya saja, populasi yang stagnan menandakan batas daya dukung sudah dicapai. Karena alasan tersebut serta upaya preventif menghindarkan populasi badak dari ancaman penyakit dan bencana alam, para ahli merekomendasikan adanya habitat kedua bagi Badak Jawa. Beberapa lokasi yang menjadi pertimbangan adalah: Hutan Baduy, Taman Nasional Halimun – Salak, Cagar Alam Sancang dan Cikepuh.
              Sejak tahun 1980-an hingga saat ini perkembangan populasinya cukup stabil pada kisaran 40-60 ekor, namun jumlah ini masih riskan dari kepunahan. Idealnya harus lebih dari 500 ekor dengan sebaran habitat yang lebih luas. Saat ini habitat hidup badak jawa terbatas hanya di Taman Nasional Ujung Kulon, ujung paling barat pulau Jawa.

Perkembangan Populasi Badak Jawa 

Sensus populasi Badak Jawa di Ujung Kulon pertama kali dilakukan tahun 1967. Saat itu diperkirakan terdapat 21-28 ekor, jumlah yang sangat kritis untuk bertahan hidup. Untungnya dari tahun ke tahun populasi badak selalu mengalami peningkatan. Hingga pada tahun 1975 jumlahnya diketahui berkembang menjadi sekitar 45 ekor. Sejak awal 80-an hingga kini populasi Badak Jawa di Ujung Kulon relatif stabil. Angka maksimum pertumbuhannya sekitar 1% per tahun. Diperkirakan daya dukung Ujung Kulon untuk populasi badak berkisar pada angka 50-an ekor. 

Monitoring terakhir yang dilakukan pihak Taman Nasional Ujung Kulon pada bulan Desember 2014 mengungkapkan jumlah populasi Badak Jawa tinggal 57 ekor. Berkurang dari sebelumnya yaitu 60 ekor, karena pada periode 2011-2014 terjadi 4 kematian dan satu kelahiran. Hal yang mengkhawatirkan komposisi jenis kelaminnya tidak seimbang, yakni terdiri dari 31 badak jantan dan 26 badak betina. Padahal idealnya satu badak jantan berbanding 4 badak betina. Kabar baiknya,  sepanjang 2016, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menemukan dua anak badak betina dan dua jantan yang lahir, sehingga terdapat 67 satwa Badak Jawa di daerah Ujung Kulon. Komposisi tersebut adalah 37 badak jantan dan 30 badak betina. Komposisi usianya antara lain 13 anak badak dan 54 badak masuk kategori remaja dan dewasa. 

Status IUCN


Critically Endangered C2a(i); D

Ancaman Kepunahan

     Sudah tidak ditemukan kasus perburuan liar badak Jawa sejak tahun 1990-an karena penegakan hukum yang efektif oleh otoritas taman nasional yang diiringin dengan inisiatif-inisiatif seperti Rhino Monitoring and Protection Unit (RMPU) serta patroli pantai.

Ancaman terbesar bagi populasi badak Jawa adalah:
Berkurangnya keragaman genetis. Populasi badak Jawa yang sedikit menyebabkan rendahnya keragaman genetis. Hal ini dapat memperlemah kemampuan spesies ini dalam menghadapi wabah penyakit atau bencana alam (erupsi gunung berapi dan gempa). Akibat kecilnya populasi sehingga mudah terjadi inbreeding. Hal ini biasa terjadi pada mahluk hidup yang populasinya terbatas dan hidup dalam satu area sehingga kemungkinan terjadinya inbreeding tinggi. Inbreeding berhubungan dengan kelangsungan hidup populasi karena sering menimbulkan tekanan daya tahan hidup, berat kelahiran dan kesuburan. Untuk menghindari inbreeding diperlukan ukuran populasi minimum yang mampu bertahan hidup (minimum viable population). Untuk mempertahankan populasi Badak Jawa dalam jangka panjang setidaknya diperlukan populasi sebanyak 500 ekor.


Degradasi dan hilangnya habitat. Ancaman lain bagi populasi Badak Jawa adalah meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat keberlangsungan pertumbuhan populasi manusia. Pembukaan hutan untuk pertanian dan penebangan kayu komersial mulai bermunculan di sekitar dan di dalam kawasan lindung tempat spesies ini hidup.

Bencana alam dan wabah penyakit
Habitat badak jawa yang hanya terkonsentrasi di kawasan Ujung Kulon menjadi masalah tersendiri mengingat kawasan ini sangat rentan dengan bencana alam. Pada tahun 1883 Gunung Krakatau yang berada di lepas pantai Ujung Kulon pernah meletus dan menimbulkan bencana gema dan tsunami hebat yang meluluhlantakkan kawasan. Letusan tersebut menyisakan anak krakatau yang hingga kini masih aktif dan sewaktu-waktu bisa meletup kembali. Demikian juga dengan ancaman wabah penyakit, bila pada suatu waktu ada wabah yang menyerang badak bukan tidak mungkin semua badak yang ada di Ujung Kulon bisa terkena dampaknya.

Persaingan dengan tanaman invasif (langkap)
Tanaman invasif langkap (Arenga obtusifolia) mengancam populasi badak jawa lewat ketersediaan pakan. Langkap adalah tanaman sejenis palem-paleman yang sering dijadikan bahan baku pembuatan gula aren. Di Ujung Kulon tanaman ini mendesak tanaman lain yang menjadi pakan badak. Penanganan terhadap ancaman ini dilakukan dengan mengurangi populasi tanaman langkap. Dari beberapa percobaan pengurangan 50% populasi langkap bisa meningkatkan ketersediaan pakan badak. Meski hanya bertahan 1-2 tahun sebelum tanaman langkap kembali mendominasi.



Rencana Konservasi (Personal Action Plan) 

       Nah, untuk Personal Action Plan yang akan saya lakukan adalah di Hari Badak Sedunia (World Rhino Day) tanggal 22 September 2018 nanti, saya akan membagikan link berisi twibbon yang bertema ”Give Us Hope” serta caption yang kalian bakalan cantumin di kolom caption, dimana twibbon ini dapat berisikan foto temen-temen sambil memegang kertas putih bertuliskan harapan, dukungan dan fakta-fakta menarik tentang Badak Jawa, dan juga bisa disertai foto Badak Jawanya di kertas yang kalian pegang saat foto. Dengan kalian memposting foto tersebut, dapat membantu orang-orang diluar sana lebih mengenal mengenai Badak Jawa dan kondisinya saat ini, sehingga mereka juga bia turut membantu dalam langkah konservasi Badak Jawa. Isi caption dapat kalian kreasikan seunik mungkin dan seinformatif mungkin, sehingga siapa aja yang baca bisa lebih tau dan mengenal tentang Badak Jawa dan turut serta mengkonservasinya. 

      Jangan sampai ketinggalan turut action ya guys, biar anak cucu kita nanti masih dapat melihat Badak Jawa di alam bebas, bukan berupa awetan di museum! Satu langkah sederhana untuk hidup yang lebih baik :)

Contohnya seperti ini :) 


Referensi 

http://www.history.com/this-day-in-history/krakatoa-erupts
https://jurnalbumi.com/badak-jawa/#return-note-249-13
Rahmat, U. Mamat. 2009. Genetika Populasi dan Strategi Konservasi Badak Jawa. JMHT 105(1): 83-90.











Komentar